Sabtu, 15 Oktober 2011

Ritual Islam: : Perspektif dan Teori

Ritual Islam: Perspektif dan Teori
 (Pembacaan terhadap tulisan Frederick M. Denny)

Cahaya Khaeroni

a.   Pendahuluan
Semua agama mengenal ritual, karena setiap agama memiliki ajaran tentang hal yang sakral. Salah satu tujuan pelaksanaan ritual adalah pemeliharaan dan pelestarian kesakralan. Di samping itu, ritual merupakan tindakan yang memperkokoh hubungan pelaku dengan objek yang suci; dan memperkuat solidaritas kelompok yang menimbulkan rasa aman dan kuat mental. Hampir semua masyarakat yang melakukan ritual keagamaan dilatarbelakangi oleh kepercayaan. Adanya kepercayaan pada yang sakral, menimbulkan ritual. Oleh karena itu, ritual didefinisikan sebagai perilaku yang diatur secara ketat, dilakukan sesuai dengan ketentuan, yang berbeda dengan perilaku sehari-hari, baik cara melakukannya maupun maknanya. Apabila dilakukan sesuai dengan ketentuan, ritual diyakini akan mendatangkan keberkahan, karena percaya akan hadirnya sesuatu yang sakral. Sedangkan perilaku profan dilakukan secara bebas.[1]
Dalam agama Islam, ritual juga merupakan bagian integral yang tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan iman seorang muslim. Karena memang ritual Islam itu sendiri adalah bentuk ekspresi dari doktrin Islam. Sehingga bagi seorang Muslim, konsep Tauhid bukanlah sekedar proposisi teologis semata, tetapi juga realisasi yang hidup; yang “mengesakan” Tuhan dengan ketaatan dan ketundukan total. Bahkan, jika dikaji secara lebih mendalam terhadap persoalan teologis dogmatis-meskipun hal ini sangat signifikan bagi seorang Muslim, hal tersebut kurang mendapat perhatian serius, khususnya bagi kalangan Sunni yang “ortopraks,” dan hanya mendapat bagian dalam ilmu tersendiri yang terpisah dari fiqih. Hal ini menunjukkan begitu dominannya aspek ritual dalam Islam. Dalam kitab-kitab fiqih, ritual juga mendapat perhatian yang sangat dominan. Karena memang di dalamnya, kitab-kitab fiqih selalu memulai penjelasannya dengan kewajiban-kewajiban ritual dengan memperhatikan empat rukun: shalat, zakat, puasa, dan haji. Rukun pertama, syahadat biasanya tidak dibahas, melainkan diterima begitu saja. Bilangan dan eksplikasi yang dikehendaki dalam shalat selalu didahului dengan pembahasan mendetail tentang bersuci, thoharoh merupakan satu syarat yang tidak dapat dipisahkan dari perbuatan ibadah. Wudhu sendiri merupakan proses yang kompleks, dan membutuhkan penjelasan mendetail.[2]
Hal inilah yang nampaknya menarik perhatian Frederick M. Denny untuk mengkaji lebih lanjut tentang ritual Islam. Karena baginya, hal ini sangat cukup penting untuk melengkapi kajian-kajian studi Islam, Frederick M. Denny sendiripun agaknya cukup kecewa karena para Islamis ternyata cenderung mengabaikan aspek-aspek ritual yang sangat performatif dalam studi Islam. Laporan-laporannya tentang hal ini menawarkan sejumlah kemungkinan bagi riset masa depan dan cara-cara mendekati aneka bentuk dan ekspresi aktivitas simbolik dalam masyarakat Islam. Selain itu, studi ritual yang baru ini kemudian dicoba untuk dapat diterapkan pada Islam sehingga mampu memperkaya pemahaman tentang tema-tema dalam Islamic Studies.
Untuk itulah, dalam tulisan ringkas ini penulis hendak mencoba untuk mengkaji lebih mendalam mengenai pemikiran Frederick M. Denny, khususnya terkait dengan studi ritual dalam pengkajian Islam. Dengan harapan, semoga tulisan ringkas ini dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam memajukan khazanah keilmuan dan keIslaman di bumi Indonesia tercinta, amin.

b.   Problem (kegelisahan akademik)
Frederick M. Denny menilai bahwa dalam lingkup studi-studi Islam, upaya para Islamis untuk mengkaji aspek-aspek yang sangat performatif dalam kewajiban keagamaan Islam nampak sangatlah minim sekali bahkan mereka seolah-olah cenderung mengabaikannya. Padahal, Islam sendiri menempatkan aspek ritual dalam posisi yang cukup dominan.[3] Read more


c.    Pentingnya topik penelitian
Penelitian Frederick M. Denny penting untuk memberikan penjelasan mengenai fenomena keagamaan yang terkait dengan perilaku ritual yang ideal dan praktek ritual yang berkembang. Usaha Denny adalah sebuah terobosan untuk memecah kebuntuan dalam studi tentang ritual-ritual yang masih banyak diabaikan begitu saja oleh pengkaji Islam baik dikalangan Muslim atau orientalis. Sejumlah teori yang ditawarkan dapat digunakan oleh pengkaji sesudahnya dalam menganalisis makna-makna yang tersembunyi dibalik pelaksanaan ritual-ritual dalam agama-agama dan Islam.[7]

d.   Hasil penelitian terdahulu
Frederick M. Denny telah menelaah karya-karya para peneliti sebelumnya, diantaranya seperti karya:
1.   Karya Snouck Hurgronje mengenai studi historis tentang haji.
Sebuah karya yang diterbitkan beberapa tahun sebelum Snouck Hurgronje menetap di Mekkah selama musim semi dan musim panas pada tahun 1885. Menurut Frederick M. Denny, Karya Snouck Hurgronje merupakan contoh karya orientalis yang secara tradisional didasarkan pada teks dan menggambarkannya dalam latar akademik.[8] Read More

e.    Metodologi penelitian
Metodologi penelitian yang digunakan oleh Frederick M. Denny adalah pendekatan fenomenologi, dengan verstehen-nya[9] guna mencari pengertian terhadap pola yang general (general pattern) dan pola yang partikular (particular pattern). Secara lebih konkret, dalam upaya memahami ritual, Frederick M. Denny menggunakan beberapa teori: Pertama, teori ruang suci dan waktu suci, teori ini berhasil menemukan adanya dimensi ruang dan waktu dalam ritual. Ruang dan waktu itu sendiri adalah kategori universal dan banyak cara yang dapat digunakan oleh orang beragama untuk menjelaskan dan menuturkannya. Sebagai contoh: ibadah shalat lima waktu, secara jelas dan gamblang memberikan kesaksian bahwa orientasi waktu suci cukup dominan dalam ritual Islam. Selain itu, ibadah haji yang merupakan ekspresi liminalitas dan komunitas dalam pengertian Victor Turner, juga memberikan penjelasan adanya orientasi kombinasi antara ruang dan waktu yang berfokus pada pusat dunia, yakni Mekkah. Juga perlu ditambahkan bahwa dalam shalat itu sendiri juga ada orientasi ruang yang kuat terhadap kiblat, yakni arah ka’bah di Mekkah, yang berfokus pada upaya melahirkan energi spiritual dan menunjukkan adanya kesatuan manusia dan tujuannya. Sehingga jelas, bahwa di mana pun Muslim mengerjakan shalat, selama itu pula secara spiritual ia berada pada pusat peribadahan.[10] Read More  



f.    Ruang lingkup dan istilah kunci penelitian
Ruang lingkup kajian Frederick M. Denny adalah studi tentang ritual, yang diterangkan dengan teori yang dipinjam dari Theodore Gasper dan Arnold van Gennep. Maka kata-kata kunci yang digunakan adalah; Ruang dan waktu suci, Topocosme, Pengosongan (Kenosis), Pengisian (plerosis), ritus peralihan (rites of passage), Pemisahan (separation), transisi (transition), dan penyatuannya dalam status baru (aggregate).

g.   Kontribusi dalam Ilmu-ilmu keIslaman
Dari beberapa tulisan yang dipaparkan secara cukup jelas dan gamblang, setidaknya ada beberapa kontribusi penting yang menjadi sumbangan Frederick M. Denny bagi para pengkaji studi-studi keIslaman.  Diantaranya adalah: pertama, Frederick M. Denny membantu memberikan pemahaman secara lebih komprehensif tentang studi-studi ritual dalam kajian Islam. Konsep ruang suci dan waktu suci yang dia paparkan sangat membantu para pengkaji studi keIslaman khususnya dalam lingkup studi ritual untuk lebih menangkap esensi makna dari aktivitas simbolik yang ditunjukkan dalam masyarakat Islam. Kedua, Frederick M. Denny memberikan kerangka teori dalam menguraikan aspek-aspek ritual yang berkembang dalam masyarakat.

h.   Logika dan Sistematika Penulisan
Penulisan Frederick M. Denny diawali dengan menguraikan problem-problem akademik yang dihadapinya. Lalu dilanjutkan dengan uraian singkat mengenai alasan dia memilih studi ritual dalam penelitiannya. Kemudian dia memaparkan penjelasan teori ruang suci dan waktu suci yang mencari pola general dan particular tentang aspek-aspek ritual khususnya dalam masyarakat Islam. Dia juga menggunakan beberapa kerangka teori lain dalam menguraikan aspek-aspek ritual tersebut, seperti Topocosme-nya Theodore Gaster, dan rites of passage (ritus peralihan) ala Arnold van Gennep. Terakhir, Frederick M. Denny menekankan perlunya pengkajian studi ritual terhadap pembacaan al-Qur’an dan zakat sebagai tema atau topik yang penting namun masih jarang diteliti oleh para pengkaji studi agama khususnya pengkaji studi Islam.

i.     Penutup
Sebagai seorang yang menaruh minat besar pada studi-studi keIslaman, Frederick M. Denny telah menunjukkan keseriusannya dengan memberikan sumbangan metodologis yang cukup berarti dalam pengkajian studi keIslaman khususnya studi-studi tentang ritual. Apa yang telah diberikannya tersebut, pada awalnya beranjak dari kegelisahannya saat melihat minimnya studi ritual yang dilakukan oleh para pengkaji atau peneliti studi agama., padahal hal ini menurutnya sangatlah penting untuk dilakukan. Dalam pandangan Frederick M. Denny sendiri, Islam sebenarnya mendefinisikan diri tidak hanya dengan norma-normanya semata, tetapi juga dengan bentuk tindakan. Dan baginya pula lebih baik memandang ide-ide dan praktik-praktik ritual di kalangan Muslim sebagai unsur-unsur dari sistem simbol dan sistem tindakan daripada hanya menempatkannya sebagai antagonisme.
Disinilah sepertinya letak titik puncak kegelisahan akademik dari seorang Frederick M. Denny yang menghendaki perlu adanya kajian-kajian intensif tentang studi ritual. Untuk mendukung sikap ilmiahnya dalam mengkaji studi-studi keIslaman, Frederick M. Denny pernah mengatakan bahwa dia berharap agar mampu menjadi sosok Sokrates yang selalu mendorong dirinya dan mahasiswanya untuk menggali khazanah keIslaman dengan penuh rasa simpatik dan sikap yang bijaksana serta tanpa adanya tendensi negatif apapun. Terakhir, terlepas dari siapapun sosok Frederick M. Denny, siapapun orang yang membaca karyanya tersebut hendaknya senantiasa menunjukkan apresiasi tinggi, sikap kritis dan ilmiah. Sehingga kajian-kajian dalam ranah studi ke-Islaman kedepan, diharapkan mampu melahirkan peneliti-peneliti studi agama yang mampu menunjukkan sikap apresiatif, kritis-ilmiah dan bukan justru sebaliknya, sikap-sikap sentiment keagamaan. Wallahu A’lam bi Ash Shawwab.[]
Daftar pustaka
Amin Abdullah, dkk. Metodologi Penelitian Agama; Pendekatan multidisipliner, (Yogyakarta:Kurnia Kalam Semesta, 2006).

Atang Abd. Hakim dan Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009).

Richard C. Martin (ed), Pendekatan terhadap Islam dalam studi Agama, terj. Zakiyuddin Baidhawy, (Yogyakarta: Suka Press, 2010).

http://muhammadaiz.wordpress.com/materi-metodologi-studi-islam, diakses pada tanggal 25 maret 2011.   


1 komentar:

gulu adi mengatakan...

makasih ya mas,,,,,saya copy makalahnya