Kamis, 05 Januari 2012

PENDIDIKAN ISLAM BERBASIS MUTU

PENDIDIKAN ISLAM BERBASIS MUTU
Cahaya Khaeroni

A.  Pendahuluan
Tidak dapat dipungkiri, bahwa kondisi pendidikan Islam saat ini sedang menghadapi  berbagai persoalan dan kesenjangan dalam berbagai aspek yang sangat kompleks, hal itu meliputi: persoalan dikotomi pendidikan, kurikulum, tujuan, sumber daya, serta manajemen pendidikan Islam yang belum memadai.[1] Dan pada muaranya, problematika tersebut akan semakin melemahkan kualitas mutu pendidikan Islam pada tingkat yang lebih akut, sehingga pada gilirannya akan berdampak pula pada rendahnya output SDM yang kurang mampu berkompetisi didunia global.
Beberapa ahli mengklaim bahwa rendahnya kualitas mutu pendidikan islam tesebut disebabkan oleh kecenderungan pola pendidikan Islam yang berjalan hingga saat ini secara umum masih sangatlah tradisional. Bahkan, hal senada juga dituturkan oleh Syed M. Amir, dalam tulisannya Science Research In Moslem countries, dikatakan bahwa pola pendidikan Islam saat ini masih sangat tradisional, hal itu terlihat dari aspek tidak memadainya fasilitas pendidikan, metode mengajarnya yang klasik, dan materinya yang out of date.[2]
Padahal, jika ditinjau dalam konteks ke-Indonesiaan, sesungguhnya lembaga-lembaga pendidikan Islam memiliki potensi yang sangat besar sekali dalam mewujudkan tercapainya kualitas pendidikan bangsa Indonesia yang merata dan bermutu. Saat ini tercatat bahwa jumlah lembaga pendidikan islam diseantero Indonesia seperti madrasah telah mencapai jumlah 40.000, sementara jumlah pesantren mencapai lebih dari 26.000.[3] Di sisi lain,  jumlah penduduk Indonesia setidaknya telah mencapai lebih dari 237,6 juta jiwa dengan mayoritas adalah masyarakat muslim. Tentu saja jika pemerintah hanya semata-mata mengandalkan peran dari lembaga-lembaga pendidikan umum saja, penulis rasa ini sangat terlalu naif sekali dan sepertinya tidak akan cukup mampu untuk mengakomodasi seluruh kebutuhan pendidikan anak bangsa Indonesia.
Maka dari situlah penulis berasumsi bahwa keberadaan dan partisipasi lembaga-lembaga pendidikan Islam menduduki posisi yang sangat penting sekali dalam kancah dunia pendidikan Indonesia. Namun sayangnya, problematika kualitas pendidikan Islam yang kurang berasaskan pada standar mutu serta manajemen yang kurang memadai sering menjadi hambatan mendasar dalam ranah pendidikan Islam secara keseluruhan.
 Beranjak dari kegelisahan akademik tersebut, maka disini penulis mencoba untuk membahas dan mengkaji secara lebih mendalam mengenai konsep pendidikan Islam berbasis mutu. Dengan harapan, pendidikan Islam kedepan dapat lebih berasaskan pada pijakan mutu dan selaras dengan trend kontemporer, sehingga mampu menghasilkan output lulusan yang siap berkompetisi didunia global, menguasai Iptek, dan yang lebih utama mampu mewujudkan cita-cita Islam sebagai rahmatan alamin.

B.  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang penulis ajukan diantaranya adalah:
1.     Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan konsep mutu dalam pendidikan Islam?
2.     Bagaimanakah indikator mengenai mutu pendidikan Islam?
3.     Bagaimanakah Strategi Peningkatan Mutu dalam pendidikan Islam?

C.  Menelusuri Pengertian Mendasar Tentang Konsep Mutu Dalam Pendidikan Islam
Definisi Mutu Dalam Kamus Indonesia-Inggris memiliki arti sepadan dalam bahasa Inggris quality yang artinya taraf atau tingkatan kebaikan; nilaian sesuatu.[4] Secara umum kualitas atau mutu adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang diharapkan atau tersirat. Mutu mengandung makna derajat (tingkat) keunggulan suatu produk (hasil kerja/upaya baik berupa barang maupun jasa, baik yang tangible maupun yang intangible.[5]
Sementara itu, pembahasan tentang definisi mutu produk menurut pandangan beberapa pakar Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management). Diantaranya adalah sebagai berikut:
1.     Juran menyebutkan bahwa mutu produk adalah kecocokan penggunaan produk untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan.[6]
2.     Crosby mendefinisikan mutu adalah conformance to requirement, yaitu sesuai dengan yang disyaratkan atau distandarkan.
3.     Deming mendefinisikan mutu, bahwa mutu adalah kesesuaian dengan kebutuhan pasar.
4.     Feigenbaum mendefinisikan mutu adalah kepuasan pelanggan sepenuhnya.[7]
5.     Garvin dan Davis menyebutkan bahwa mutu adalah suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, manusia/tenaga kerja, proses dan tugas, serta lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan atau konsumen.
6.     Tenner dan De Toro  menyatakan  “Quality a basic business strategy that provides and service that completely satisfy both internal and external customers by meeting their explicit expectation.[8]
7.     Menurut Tampubolon mutu adalah “paduan sifat-sifat produk yang menunjukkan kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan pelanggan, baik kebutuhan yang dinyatakan atau kebutuhan yang tersirat, masa kini dan masa depan.”[9]

Meskipun tidak ada definisi mutu yang diterima secara universal, namun dari kelima pendapat diatas terdapat beberapa persamaan, yaitu dalam elemen-elemen sebagai berikut :
a.      Mutu mencakup usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan.
b.     Mutu mencakup produk, tenaga kerja, proses, dan lingkungan.
c.      Mutu merupakan kondisi yang selalu berubah (misalnya apa yang dianggap merupakan mutu saat ini, mungkin dianggap kurang bermutu pada masa mendatang).
Pengertian kualitas atau mutu dapat dilihat juga dari konsep secara absolut dan relatif. Dalam konsep absolut, sesuatu (barang) disebut berkualitas bila memenuhi standar tertinggi dan sempurna. Artinya, barang tersebut sudah tidak ada yang melebihi. Bila diterapkan dalam dunia pendidikan konsep kualitas absolut ini bersifat elitis karena hanya sedikit lembaga pendidikan yang akan mampu menawarkan kualitas tertinggi kepada peserta didik dan hanya sedikit siswa yang akan mampu membayarnya. Sedangkan, dalam konsep relatif, kualitas berarti memenuhi spesifikasi yang ditetapkan dan sesuai dengan tujuan (fit for their purpose). Kualitas dalam konsep relatif berhubungan dengan produsen, maka kualitas berarti sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan pelanggan.[10]
 Menurut Oemar Hamalik, pengertian mutu dapat dilihat  dari dua sisi, yaitu dari segi normatif dan segi deskiptif. Dalam arti normatif, mutu ditentukan berdasarkan pertimbangan kriteria intrinsik dan ekstrinsik. Berdasarkan kriteria intrinsik, mutu pendidikan merupakan produk pendidikan yakni manusia yang terdidik sesuai dengan standar ideal, jika dikaitkan dengan pendidikan Islam, maka produknya ialah tercapainya Insan kamil yang mampu menyeimbangkan ilmu umum dan ilmu agama. Sedangkan kriteria ekstrinsik, pendidikan merupakan instrumen untuk mendidik tenaga kerja yang terlatih. Adapun dalam arti deskriptif, mutu ditentukan berdasarkan keadaan senyatanya, misalnya hasil tes belajar.
Sedangkan konsep tentang mutu pendidikan menurut Sudarwan Danim mengacu pada masukan, proses, luaran dan dampaknya. Mutu masukan dapat dilihat dari beberapa sisi. Pertama, kondisi baik atau tidaknya masukan sumber daya manusia, seperti kepala sekolah, guru, laboran, staf tata usaha, dan siswa. Kedua, memenuhi atau tidaknya kriteria masukan material berupa alat peraga, buku-buku, kurikulum, prasarana, sarana sekolah, dan lain-lain. Ketiga, memenuhi atau tidaknya kriteria masukan yang berupa perangkat lunak, seperti peraturan, struktur organisasi, deskripsi kerja, dan struktur organisasi. Keempat, mutu masukan yang bersifat harapan dan kebutuhan, seperti visi, motivasi, ketekunan dan cita-cita.
Mutu proses pembelajaran mengandung makna bahwa kemampuan sumber daya sekolah mentransformasikan multi jenis masukan dan situasi untuk mencapai derajat nilai tambah tertentu dari peserta didik. Dilihat dari hasil pendidikan, mutu pendidikan dipandang berkualitas jika mampu melahirkan keunggulan akademis dan ekstrakurikuler pada peserta didik yang dinyatakan lulus untuk satu jenjang pendidikan atau menyelesaikan program pembelajaran tertentu. 
Berdasarkan konsepsi dasar dari makna mutu, maka mutu pendidikan Islam adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh jasa pelayanan pendidikan secara internal maupun eksternal yang menunjukkan kemampuannya memuaskan kebutuhan yang diharapkan atau yang tersirat mencakup input, proses, dan output pendidikan. Dalam konteks mutu pendidikan, pada hakekatnya tujuan lembaga pendidikan adalah untuk menciptakan dan mempertahankan kepuasan para pelanggan dan dalam kepuasan pelanggan ditentukan oleh stakeholder lembaga pendidikan tersebut. Oleh karena hanya dengan memahami proses dan kepuasan pelanggan maka lembaga dapat menyadari dan menghargai kualitas. Semua usaha atau kegiatan manajemen mutu harus diarahkan pada suatu tujuan utama, yaitu kepuasan pelanggan, apa yang dilakukan manajemen tidak ada gunanya bila tidak melahirkan kepuasan pelanggan.[11] 



D.  Indikator mutu pendidikan
Setelah memahami tentang pengertian mutu, maka perlu diketahui pula apa saja yang termasuk dalam dimensi mutu. Garvin, seperti apa yang dikutip oleh M.N Nasution mendefinisikan delapan dimensi yang dapat digunakan untuk menganalisis karakteristik kualitas produk. Kedelapan dimensi tersebut adalah sebagai berikut:
1.   Kinerja/performa (performance), yaitu berkaitan dengan aspek fungsional dari produk dan merupakan karakteristik utama yang dipertimbangkan pelanggan ketika ingin membeli suatu produk yakni karakteristik pokok dari produk inti.
2.   Features, merupakan aspek kedua dari performa yang menambah fungsi dasar serta berkaitan dengan pilihan-pilihan dan pengembangannya, yaitu ciri-ciri/keistimewaan tambahan atau karakteristik pelengkap/tambahan.
3.   Keandalan (reliability), yaitu berkaitan dengan kemungkinan suatu produk yang berfungsi secara berhasil dalam periode waktu tertentu dibawah kondisi tertentu. Dengan demikian, keandalan merupakan karakteristik yang merefleksikan kemungkinan tingkat keberhasilan dalam penggunaan suatu produk.
4.   Konformitas (conformance), yaitu berkaitan dengan tingkat kesesuaian produk terhadap spesifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya berdasarkan keinginan pelanggan. Kalau menurut Tjiptono, konformitas berkaitan dengan sejauhmana karakteristik desain dan operasi memenuhi standar-standar yang telah ditetapkan sebelumnya.
5.   Daya tahan (durability), yaitu berkaitan dengan berapa lama produk tersebut dapat terus digunakan.
6.   Kemampuan pelayanan (serviceability), merupakan karakteristik yang berkaitan dengan kecepatan/kesopanan, kompetensi, kemudahan, serta penanganan keluhan yang memuaskan.
7.   Estetika (aestetics), merupakan karakteristik mengenai keindahan yang bersifat subjektif sehingga berkaitan dengan pertimbangan pribadi dan refleksi dari preferensi atau pilihan individual.
8.   Kualitas yang dipersepsikan (perceive quality), yaitu karakteristik yang berkaitan dengan reputasi (brand name, image).
Adapun indikator atau kriteria yang dapat dijadikan tolok ukur mutu pendidikan Islam yaitu hasil akhir pendidikan, hasil langsung pendidikan (hasil langsung inilah yang dipakai sebagai titik tolak pengukuran mutu pendidikan suatu lembaga pendidikan, misal: tes tulis, daftar cek, anekdot, skala rating, dan skala sikap), proses pendidikan, instrumen input (alat interaksi dengan raw input, yakni siswa), serta raw input dan lingkungan.

E.  Strategi Peningkatan Mutu pendidikan Islam
Dalam rangka memenuhi tuntutan dan kepuasan pelanggan atau pengguna jasa pendidikan, maka diperlukan strategi yang ampuh. Strategi tersebut diharapkan mampu mengatasi sejumlah masalah rendahnya mutu pendidikan melalui optimalisasi sumber daya lembaga pendidikan Islam yang secara langsung dapat meningkatkan mutu pendidikan. 
Untuk pengembangan basis manajemen mutu terpadu, peran lembaga pendidikan Islam tidak lain adalah sebagai lembaga usaha “jasa” yang memberikan pelayanan kepada pelanggannya, yaitu mereka yang belajar dalam lembaga pendidikan tersebut, yakni peserta didik yang biasanya disebut klien/pelanggan primer (primary external customers). Mereka inilah yang langsung menerima manfaat layanan pendidikan dari lembaga tersebut. Para klien terkait dengan orang yang mengirimnya ke lembaga pendidikan, yaitu orangtua atau lembaga tempat klien tersebut bekerja, dan mereka ini kita sebut sebagai pelanggan sekunder (secondary external customers). Pelanggan lainnya yang bersifat tersier adalah lapangan kerja bisa pemerintah maupun masyarakat pengguna output pendidikan (tertiary external customers).
Selain itu, dalam hubungan kelembagaan masih terdapat pelanggan lainnya yaitu yang berasal dari intern lembaga; mereka itu adalah para guru dan tenaga administrasi lembaga pendidikan, serta pimpinan lembaga pendidikan (internal customers). Walaupun para guru dan tenaga administrasi, serta pimpinan lembaga pendidikan tersebut terlibat dalam proses pelayanan jasa, tetapi mereka termasuk juga pelanggan jika dilihat dari hubungan manajemen. Mereka berkepentingan dengan lembaga tersebut untuk maju, karena semakin maju dan berkualitas mereka diuntungkan, baik secara kebanggaan maupun finansial.
Sementara itu, strategi peningkatan mutu pendidikan Islam harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan atau harapan pelanggan, maka dari situlah layanan pendidikan Islam tentu saja harus memperhatikan setiap masing-masing kebutuhan pelanggan tersebut. Kepuasan dan kebanggaan dari mereka sebagai penerima manfaat layanan pendidikan harus menjadi acuan mendasar bagi program peningkatan mutu layanan pendidikan Islam.
Untuk mengaplikasikan konsep mutu ke dalam pendidikan Islam, perlu kita meminjam prinsip-prinsip pencapaian mutu Edward Deming, berikut ini, ialah uraian tentang penerapan prinsip-prinsip tersebut ke dalam pendidikan Islam:
Pertama, untuk menjadi lembaga pendidikan Islam yang bermutu perlu kesadaran, niat dan usaha yang sungguh-sungguh dari segenap unsur di dalamnya. Mutu pendidikan Islam dapat diukur dari pengakuan orang lain (siswa, sejawat dan masyarakat) bahwa pendidikan Islam tersebut benar-benar memberikan pengaruh positif bagi kemajuan personal, melahirkan temuan-temuan melalui riset yang bermanfaat bagi pengembangan masyarakat, bangsa dan dunia.
Kedua, lembaga pendidikan Islam yang bermutu adalah yang secara keseluruhan memberikan kepuasan kepada masyarakat pelanggannya, artinya harapan dan kebutuhan pelanggan terpenuhi dengan jasa yang diberikan oleh lembaga tersebut. Kebutuhan pelanggan adalah berkembangnya SDM yang bermutu dan tersedianya informasi, pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat, karya lembaga pendidikan Islam tersebut. Bentuk kepuasan pelanggan misalnya para lulusannya merasakan manfaat pendidikannya dalam meniti karirnya di lapangan kerja. Selain itu di dalam pendidikan Islam tersebut terjadi proses belajar-mengajar yang teratur dan lancar, guru-gurunya produktif, berperan aktif dalam memajukan bangsa dan negara, dan lulusannya berprestasi cemerlang di masyarakat.
Ketiga, perhatian lembaga pendidikan Islam selalu ditujukan pada kebutuhan dan harapan para pelanggan: siswa, masyarakat, industri, pemerintahan dan lainnya, sehingga mereka puas karenanya. Pendidikan Islam yang mampu memberikan kontribusi bagi tatanan kehidupan yang lebih luas. Pendidikan Islam mampu bersaing pada posisi-posisi strategis untuk membangun kualitas hidup manusia secara adil, setara dan bijaksana.
Keempat, pendidikan Islam yang bermutu tumbuh dan berkembang karena adanya modal kerjasama yang baik antar sesama unsur di dalamnya untuk mencapai mutu yang ditetapkan. Sebagai contoh kelompok pengajar bekerjasama menyusun strategi pembelajaran siswa secara efektif dan efisien. Jika hanya satu atau dua saja guru yang mengajar secara baik tidaklah cukup, karena tidak akan menjamin terjadinya mutu siswa yang baik.
Untuk itu, maka semua guru harus menjadi pengajar yang baik. Sebaliknya, jika gurunya mampu menjadi pengajar yang baik, maka siswanya haruslah ingin belajar secara efektif. Proses belajar mengajar tidak dapat dikatakan efektif dan efisien jika hanya sepihak, gurunya saja atau siswanya saja yang baik. Interaksi yang baik antar sesama unsur dalam pendidikan Islam harus terjalin secara intensif, agar pencapaian mutu dapat berhasil sesuai harapan. Dalam upaya menggiatkan kerjasama antar unsur dalam pendidikan Islam tersebut perlu dibentuk “tim perbaikan mutu” yang diberi kewenangan untuk mencari upaya agar mutu pendidikan Islam lebih baik. Untuk ini pelatihan kepada tim terutama tentang cara-cara bekerjasama yang efektif dan efisien dalam tim sangat diperlukan.
Kelima, diperlukan pimpinan yang mampu memotivasi, mengarahkan, dan mempermudah serta mempercepat proses perbaikan mutu. Pimpinan lembaga (kepala sekolah atau madrasah, wakil kepala sekolah, hingga kepala bagian-bagian terkait) bertugas sebagai motivator dan fasilitator bagi orang-orang yang bekerja dibawah pengawasannya untuk mencapai mutu. Setiap atasan adalah pemimpin, sehingga ia haruslah memiliki kepemimpinan. Kepemimpinan haruslah yang mampu membuat orang kemudian merasa lebih berdaya, sehingga yang dipimpin mampu melaksanakan tugas pekerjaannya lebih baik dan hasil yang lebih baik pula. Oleh sebab itu, keterlibatan langsung pemimpin lembaga pendidikan sangatlah penting.[12]
Keenam, semua karya lembaga pendidikan Islam (pengajaran, penelitian, pengabdian, administrasi dan seterusnya) selalu diorientasikan pada mutu, karena setiap unsur yang ada di dalamnya telah berkomitmen kuat pada mutu. Akibat dari orientasi ini, maka semua karya yang tidak bermutu ditolak atau dihindari. Ketujuh, ada upaya perbaikan mutu lembaga pendidikan Islam secara berkelanjutan. Untuk ini standar mutu yang ditetapkan sebelumnya selalu dievaluasi dan diperbaiki sedikit demi sedikit sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
Kedelapan, segala keputusan untuk perbaikan mutu pelayanan pendidikan Islam atau pengajaran harus selalu didasarkan data dan fakta untuk menghindari adanya kelemahan dan keraguan dalam pelaksanaannya. Kesembilan, penyajian data dan fakta dapat ditunjang dengan berbagai alat dan teknik untuk perbaikan mutu yang bisa dianalisis dan disimpulkan, sehingga tidak menyesatkan.
Kesepuluh, hendaknya pekerjaan di lembaga pendidikan Islam jangan dilihat sebagai pekerjaan rutin yang sama saja dari waktu ke waktu, karena bisa membosankan. Setiap kegiatan di lembaga tersebut harus direncanakan dan dilaksanakan dengan cermat, serta hasilnya dievaluasi dan dibandingkan dengan standar yang ditetapkan. Hendaknya tercipta kondisi pada setiap yang bekerja dilembaga tersebut untuk bersedia belajar sambil bekerja, dan sedapat mungkin diprogramkan baik belajar tentang materi, metode, prosedur dan lain-lain. Kesebelas, dari waktu ke waktu prosedur kerja yang digunakan di lembaga pendidikan Islam perlu ditinjau apakah mendatangkan hasil yang diharapkan. Jika tidak maka prosedur tersebut perlu diubah dengan yang lebih baik.
Keduabelas, perlunya pengakuan dan penghargaan bagi yang telah berusaha memperbaiki mutu kerja dan hasilnya. Para guru dan karyawan administrasi mencoba cara-cara kerja baru dan jika mereka berhasil diberikan pengakuan dan penghargaan. Ketigabelas, perbaikan prosedur antar fungsi di lembaga pendidikan Islam sebagai bentuk kerjasama harus dijalin hubungan saling membutuhkan satu sama lain. Tidak ada yang lebih penting satu unsur dari unsur yang lain dalam mencapai mutu pendidikan Islam. Misalnya, tenaga administrasi sama pentingnya dengan tenaga pengajar, dan sebaliknya.
Keempatbelas, tradisikan pertemuan antar pengajar dan siswa untuk mereview proses belajar-mengajar dalam rangka memperbaiki pengajaran yang bemutu. Pertemuan dengan orangtua siswa, pertemuan dengan tokoh masyarakat, dengan alumni, pemerintah daerah, pengusaha dan donatur lembaga pendidikan Islam dapat dilakukan oleh penyelenggara lembaga pendidikan Islam. Pendek kata, hendaknya semua unsur yang berkepentingan dengan lembaga pendidikan Islam dapat berpartisipasi ikut mengembangkan pendidikan Islam mencapai mutu yang baik.[13]
Mendasarkan hal-hal di atas, tampak bahwa sebenarnya mutu pendidikan Islam adalah merupakan akumulasi dari cerminan semua mutu jasa pelayanan yang ada di lembaga pendidikan Islam yang diterima oleh para pelanggannya. Layanan pendidikan Islam adalah suatu proses yang panjang, dan sistem yang berjalan secara padu. Bila semua kegiatan dilakukan dengan baik, maka hasil akhir layanan pendidikan tersebut akan mencapai hasil yang baik, berupa “mutu terpadu.”

F. Penutup
Peningkatan mutu pendidikan Islam merupakan satu langkah awal penting yang harus dilakukan. Peningkatan mutu tersebut harus dilakukan secara menyeluruh dengan mempergunakan dan memberdayakan semua aspek sumber daya yang ada. Dengan kata lain, strategi dasar untuk meningkatkan mutu secara berkesinambungan yaitu melalui peningkatan seluruh objek garapan dalam manajemen pendidikan Islam, mulai dari peningkatan tenaga kependidikan, peserta didik, kurikulum, proses pembelajaran, sarana prasarana pendidikan, keuangan dan termasuk hubungannya dengan masyarakat. Semua program dan kegiatan manajemen pendidikan juga harus diarahkan pada suatu tujuan utama, yaitu kepuasan pelanggan, dan apa yang dilakukan manjemen tidak ada gunanya apabila tidak melahirkan kepuasan pelanggan, baik eksternal maupun internal.
Dengan demikian, menggagas suatu konsepsi pendidikan Islam berbasis mutu harus senantiasa mendapat perhatian dan dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu demi peningkatan mutunya, maka lembaga-lembaga pendidikan Islam perlu dibantu, dibela, dan diperjuangkan agar mampu hidup dan berkembang, serta dapat bersaing dengan lembaga-lembaga pendidikan sekolah.[]












DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman Assegaf dkk, Pendidikan Islam di Indonesia, (SUKA PRESS: Yogyakarta, 2010).

Company.Tenner, A.R, dan De Toro, I.J , Total Quality Management: Three Steps To Continuous Improvement, Reading, (MA: Addison-Wesley Publishing Company. 1992).

Edward Sallis, Manajemen Mutu Terpadu Pendidikan; Peran Strategis Pendidikan di Era Globalisasi Modern, terj,A.Riyadi, (Yogyakarta: Ircisod, 2011).



Imam Machali dan Adhi Setiyawan (ed), Antologi Kependidikan Islam (Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah, 2010).

John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Indonesia Inggris; An Indonesian-English Dictionary,  (Jakarta: Gramedia, 1998).

Sanaki, Paradigma Pendidikan Islam Membangun Masyarakat Madani Indonesia, (Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2003).

Tampubolon, Daulat P, Perguruan Tinggi Bermutu: Paradigma Baru Manajemen Pendidikan Tinggi Menghadapi Tantangan Abad Ke-21. (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1992).

Umiarso dan Imam Gojali, Manajemen Mutu Sekolah di Era Otonomi Pendidikan; ‘menjual’ mutu pendidikan dengan pendekatan quality control bagi pelaku lembaga pendidikan, (Yogyakarta: Ircisod, 2011).

Zamakhsyari Dhofier, “Pesantren dan Modernitas”, Makalah disampaikan dalam seminar ilmiah di PP Nurussalam al Munawwir krapyak Yogyakarta, 22 Januari 2011.



  

Tidak ada komentar: